Pages

Labels

Sunday, 27 April 2014

Sekolah Berstatus Negeri, Bukan Penentu Kepandaian Kita !

Belajar adalah suatu kewajiban bagi setiap anak bangsa. Salah satu tempat yang memberikan sarana belajar untuk menuntut ilmu adalah sekolah. Keberadaan sekolah di Indonesia terdapat dua status yang berbeda, yaitu sekolah berstatus negeri, dan sekolah berstatus swasta. Jika ditanyakan tentang perbedaan antara sekolah berstatus negeri, dan sekolah berstatus swasta, kita bisa membedakannya dari segi luarnya, seperti fasilitas, biaya, strategi proses belajar mengajar, perencanaan kurikulum, dan pandangan seseorang dalam dunia kerja. Namun, sekolah milik pemerintah yang berstatus negeri ini sering mendapatkan pujian-pujian dari kalangan orang tua, sebaliknya sekolah berstatus swasta sering mendapatkan cemoohan, seperti pendapat yang disampaikan oleh seorang Ibu, “Anak swasta malas-malas, berbeda dengan anak negeri yang terkenal rajin.”
Dari pendapat yang disampaikan oleh Ibu itu, timbul suatu pesan diskriminasi dalam status sekolah. Khususnya bagi siswa-siswi yang duduk di bangku sekolah berstatus swasta. Namun, cemoohan untuk sekolah berstatus swasta tidak hanya dilontarkan dari kalangan orang tua saja, beberapa dari teman saya yang masih berstatus pelajar juga sering memandang sekolah berstatus swasta dengan sebelah mata.
Suatu kalimat terlontar dari beberapa teman saya yang selalu menjadi suatu jawaban untuk menjawab pertanyaan, “Kamu akan melanjutkan pendidikanmu kemana?” yaitu dengan tegas mereka menjawab, “Yang pastinya mencoba ke negeri dulu dong.” Itu masih beberapa dari teman saya, belum lagi kalau saya harus menanyakan ke semua teman saya, atau bahkan ke seluruh orang yang belum saya kenal. Saya menjamin 90 % dari mereka akan menjawab dengan inti kalimat yang sama.
Ada apa ini? Apakah kalimat dari jawaban itu telah menjadi suatu mantra dari keturunan nenek moyang, sehingga semuanya harus menjawab dengan inti kalimat yang sama? Apakah mereka malu untuk sekolah berstatus swasta? Seakan-akan semuanya harus ke negeri dulu, dan hanya kondisi yang terdesak baru memilih sekolah berstatus swasta.
Siapa tahu maksud hati orang lain, kalau tidak hanya Sang Pencipta. Ketika saya mengintip sedikit lebih dalam dari alasan mereka yang berdominan memilih sekolah berstatus negeri adalah biaya. Ada yang mengatakan, “Biaya sekolah berstatus swasta lebih mahal dibandingkan sekolah berstatus negeri. Selain itu juga, sekolah berstatus swasta lebih terkenal dengan sebutan sekolah buangan dari sekolah berstatus negeri yang tidak diterima.” Sungguh ironisnya pendapat itu ketika terdengar oleh para pelajar yang sedang menuntut ilmu di sekolah berstatus swasta.
Ketika saya melihat proses ujian saring masuk suatu sekolah milik pemerintah yang berstatus negeri sering terdapat keganjalan. Misalkan, setelah hasil pengumuman ujian saring masuk suatu sekolah berstatus negeri tertempel di suatu mading (majalah dinding) sekolah yang bersangkutan, atau diumumkan melalui jejaring sosial yang dimiliki oleh sekolah yang bersangkutan, saya sering mendapatkan gunjingan-gunjingan dari para peserta ujian saring tersebut, “Mengapa si Jono (nama samaran) lolos ujian masuk SMA negeri A ya, padahal dia tidak terlalu pandai? Mengapa bukan si Adel (nama samaran) yang lolos, padahal mulai dari SD sampai SMP dia selalu mendapat juara, selain itu juga lulusan sekolah negeri?” Gunjingan itu tidak terjadi pada saat ujian saring masuk SMA negeri saja, mulai dari SD negeri, SMP negeri, bahkan perguruan tinggi negeri juga sering terjadi. Saya dapat menyimpulkan dari gunjingan tersebut, bahwa ujian saring masuk sekolah negeri dan perguruan tinggi negeri tidak jauh dari faktor keberuntungan yang dimiliki oleh para peserta.
Selanjutnya, ketika saya melihat sekolah berstatus swasta juga tidak mau kalah dengan sekolah milik pemerintah yang berstatus negeri tersebut. Mulai dari fasilitas yang disediakan juga tidak kalah dengan sekolah berstatus negeri, bahkan dari segi fasilitas sekolah berstatus negeri bisa terkalahkan oleh sekolah berstatus swasta, karena sekolah berstatus negeri yang merupakan milik pemerintah tersebut hanya menunggu biaya bantuan dari pemerintah beserta persetujuannya. Namun, sekolah swasta bebas, hanya bergantung dari ketua yayasan yang mengayomi sekolah tersebut. Kita ingat, bahwa fasilitas sekolah yang disediakan juga menentukan suatu pengetahuan bagi pelajarnya. Namun, semuanya juga perlu dukungan berupa kontribusi keingintahuan dari para pelajarnya.
Lantas, mengapa status sekolah masih dijadikan suatu pacuan prestasi? Paling-paling pacuan yang dibuat berdasarkan sekolah itu sendiri. Perlu diingat lagi, bahwa kedua sekolah yang memiliki status berbeda tersebut juga dimiliki oleh sebuah organisasi yang berbeda, yaitu Negara dan yayasan.
Selain itu, yang paling menentukan suatu prestasi kita adalah diri kita sendiri. Di manapun kita bersekolah, asalkan punya niat dan keinginan yang teguh, kesuksesan akan menanti kita. Perlu kita ingat kembali, tidak hanya sekolah yang dijadikan tempat sarana belajar kita, dimanapun kita berada kita bisa mendapatkan ilmu.

0 comments:

Post a Comment