Belajar
adalah suatu kewajiban bagi setiap anak bangsa. Salah satu tempat yang
memberikan sarana belajar untuk menuntut ilmu adalah sekolah. Keberadaan
sekolah di Indonesia terdapat dua status yang berbeda, yaitu sekolah berstatus
negeri, dan sekolah berstatus swasta. Jika ditanyakan tentang perbedaan antara
sekolah berstatus negeri, dan sekolah berstatus swasta, kita bisa membedakannya
dari segi luarnya, seperti fasilitas, biaya, strategi proses belajar mengajar,
perencanaan kurikulum, dan pandangan seseorang dalam dunia kerja. Namun,
sekolah milik pemerintah yang berstatus negeri ini sering mendapatkan
pujian-pujian dari kalangan orang tua, sebaliknya sekolah berstatus swasta
sering mendapatkan cemoohan, seperti pendapat yang disampaikan oleh seorang
Ibu, “Anak swasta malas-malas, berbeda dengan anak negeri yang terkenal rajin.”
Dari
pendapat yang disampaikan oleh Ibu itu, timbul suatu pesan diskriminasi dalam status
sekolah. Khususnya bagi siswa-siswi yang duduk di bangku sekolah berstatus
swasta. Namun, cemoohan untuk sekolah berstatus swasta tidak hanya dilontarkan
dari kalangan orang tua saja, beberapa dari teman saya yang masih berstatus
pelajar juga sering memandang sekolah berstatus swasta dengan sebelah mata.
Suatu
kalimat terlontar dari beberapa teman saya yang selalu menjadi suatu jawaban
untuk menjawab pertanyaan, “Kamu akan melanjutkan pendidikanmu kemana?” yaitu
dengan tegas mereka menjawab, “Yang pastinya mencoba ke negeri dulu dong.” Itu
masih beberapa dari teman saya, belum lagi kalau saya harus menanyakan ke semua
teman saya, atau bahkan ke seluruh orang yang belum saya kenal. Saya menjamin
90 % dari mereka akan menjawab dengan inti kalimat yang sama.
Ada
apa ini? Apakah kalimat dari jawaban itu telah menjadi suatu mantra dari
keturunan nenek moyang, sehingga semuanya harus menjawab dengan inti kalimat
yang sama? Apakah mereka malu untuk sekolah berstatus swasta? Seakan-akan
semuanya harus ke negeri dulu, dan hanya kondisi yang terdesak baru memilih
sekolah berstatus swasta.
Siapa
tahu maksud hati orang lain, kalau tidak hanya Sang Pencipta. Ketika saya
mengintip sedikit lebih dalam dari alasan mereka yang berdominan memilih
sekolah berstatus negeri adalah biaya. Ada yang mengatakan, “Biaya sekolah
berstatus swasta lebih mahal dibandingkan sekolah berstatus negeri. Selain itu
juga, sekolah berstatus swasta lebih terkenal dengan sebutan sekolah buangan
dari sekolah berstatus negeri yang tidak diterima.” Sungguh ironisnya pendapat
itu ketika terdengar oleh para pelajar yang sedang menuntut ilmu di sekolah
berstatus swasta.
Ketika
saya melihat proses ujian saring masuk suatu sekolah milik pemerintah yang
berstatus negeri sering terdapat keganjalan. Misalkan, setelah hasil pengumuman
ujian saring masuk suatu sekolah berstatus negeri tertempel di suatu mading
(majalah dinding) sekolah yang bersangkutan, atau diumumkan melalui jejaring
sosial yang dimiliki oleh sekolah yang bersangkutan, saya sering mendapatkan
gunjingan-gunjingan dari para peserta ujian saring tersebut, “Mengapa si Jono
(nama samaran) lolos ujian masuk SMA negeri A ya, padahal dia tidak terlalu
pandai? Mengapa bukan si Adel (nama samaran) yang lolos, padahal mulai dari SD
sampai SMP dia selalu mendapat juara, selain itu juga lulusan sekolah negeri?”
Gunjingan itu tidak terjadi pada saat ujian saring masuk SMA negeri saja, mulai
dari SD negeri, SMP negeri, bahkan perguruan tinggi negeri juga sering terjadi.
Saya dapat menyimpulkan dari gunjingan tersebut, bahwa ujian saring masuk
sekolah negeri dan perguruan tinggi negeri tidak jauh dari faktor keberuntungan
yang dimiliki oleh para peserta.
Selanjutnya,
ketika saya melihat sekolah berstatus swasta juga tidak mau kalah dengan
sekolah milik pemerintah yang berstatus negeri tersebut. Mulai dari fasilitas
yang disediakan juga tidak kalah dengan sekolah berstatus negeri, bahkan dari
segi fasilitas sekolah berstatus negeri bisa terkalahkan oleh sekolah berstatus
swasta, karena sekolah berstatus negeri yang merupakan milik pemerintah
tersebut hanya menunggu biaya bantuan dari pemerintah beserta persetujuannya.
Namun, sekolah swasta bebas, hanya bergantung dari ketua yayasan yang mengayomi
sekolah tersebut. Kita ingat, bahwa fasilitas sekolah yang disediakan juga
menentukan suatu pengetahuan bagi pelajarnya. Namun, semuanya juga perlu
dukungan berupa kontribusi keingintahuan dari para pelajarnya.
Lantas,
mengapa status sekolah masih dijadikan suatu pacuan prestasi? Paling-paling
pacuan yang dibuat berdasarkan sekolah itu sendiri. Perlu diingat lagi, bahwa
kedua sekolah yang memiliki status berbeda tersebut juga dimiliki oleh sebuah
organisasi yang berbeda, yaitu Negara dan yayasan.
Selain
itu, yang paling menentukan suatu prestasi kita adalah diri kita sendiri. Di manapun
kita bersekolah, asalkan punya niat dan keinginan yang teguh, kesuksesan akan
menanti kita. Perlu kita ingat kembali, tidak hanya sekolah yang dijadikan
tempat sarana belajar kita, dimanapun kita berada kita bisa mendapatkan ilmu.

0 comments:
Post a Comment